embah bilang

belajar mentertawakan diri sendiri lewat ironi dan sinisme…

Balonku ada lima….

Balonku ada lima…

Rupa – rupa warnanya…

Hijau kuning kelabu, merah muda dan biru…

Meletus balon hijau DORRR…

Hatiku sangat kacau…

Balonku tinggal empat…

Kupegang erat – erat…

Semua warga negara Indonesia, pati tahu lagu tersebut, sama seperti semua rakyat amerika tahu dengan nomor 911 (nine-one-one) sebagai nomor emergency, yang ternyata adalah ‘nomor kode’ peletupan gedung pencakar langit mereka 🙂

Lagu balonku ada lima punya korelasi yang hampir sama dilihat dari sudut popularitas terhadap suatu bangsa, tetapi pesan yang embah akan sampaikan disini adalah tentang balonku ada lima dan warna – warni balon (plembungan) politik…

Embah yakin semuanya pada nyadar kalau hampir semua anak kecuil pasti tertarik dan merengek pada bapak dan ibu mereka untuk dibelikan kalau melihat balon warna – warni, karena buat mereka warnanya sangat menarik dan menjanjikan kesenangan sekaligus kebanggaan kalau balon mereka terliha paling besar dan paling menyolok warnanya…

tetapi kebanggaan mereka dan kesenangan mereka akan menjadi tangis dan ratapan kekecewaan pada saat balon yang mereka miliki lepas dan terbang tinggi meninggalkan mereka atau meletus dan cuma menyisakan sobekan kecil yang tidak lagi indah dan berarti serta cuma menjadi sampah… habis sudah duit buat membeli balon, habis sudah kebanggaan dan kesenangan, serta yang ada cuma penyesalan, kenapa balonnya meletus, dan kenapa balonnya terbang tinggi meninggalkannya…..

sekarang masi kita meng-analogi Balon tersebut dengan kenyataan disekitar kita khususnya pada saat musim balon kampanye kayak begini … Semua yang ditawarkan memiliki warna dan daya tarik yang luar biasa, dan sangat memikat!! semua ‘balon’ politik digelembungkan sebesar-besarnya dengan jani, janji dan janji, sama seperti gas yang mengisi balon sebenarnya, kita cuma bisa melihat tetapi tidak bisa menyentuh!! cuma janji kok ! kenyataannya nanti apa bener janji tersebut bisa disentuh atau tidak ya embah gak tahu!!

apalagi kalau nanti balon itu sudah terbang tinggi diluar jangkauan kita, dan meninggalkan kita, malahan kita gak tahu pada kemana balon yang sebelumnya kita pegang erat – erat, kalau meletus? wah cuma suaranya aja yang terdengar keras dan mengejutkan tetapi setelah itu terlupakan sama sekali.

Jadi, berhati – hati kalau mau membeli balon, atau lebih baik jangan sampai tertipu dengan rayuan ‘tukang’ jual balon, kalau tidak mau kecewa dibelakang hari nantinya!!

coba lihat diluar sana udah banyak pedagang balon yang mulai kampanye dan bilang kalau balon yang mereka tawarkan yang paling bagus, berbobot dan paling besar….

ada yang warna merah, kuning, hijau biru, putih, dan warna lainnya…sekali lagi hati – hati kalau mau beli balon, kan sudah pernah lecewa toh? Jangan beli lagi!!

Iklan

Maret 22, 2008 Posted by | 1 | | 6 Komentar

Kompetisi dagelan..

dinegaranya embah, ada beberapa kompetisi sepak bola yang dari jaman embah masih kecil sudah menjadi bagian dari kehidupan anak-anak bangsa sebagai hiduran dan tontonan sekaligus bahan pembicaraan yang gayeng diantara semua pecinta olah raga ini baik tua, muda lelaki dan perempuan, melewati batas agam, ras, suku, kaya miskin dan apapun lainnya.

Ada kompetisi tar-kam atau antar kampong, kompetisi lokal baik di kadipaten ataupun di kota raja (propinsi) dan sejak jambi (jaman mbiyen) atau jadul (jaman dulu) ketika pejabat-pejabat masih begitu bangga berpakaian dengan bahan kain Famatex, Tetoron dan Blacu, dan membawa tas kerja dari kulit imitasi, warga bangsa ini sudah terbisasa denga adanya hiruk pikuk kompetisi dan segala pernak-pernik dan kemeriahannya termasuk juga akibat yang timbul semisal penonton marah, protes ke wasit, merusak dan membakar stadion dan sebagainya.

Dari gambaran itu embah bisa memahami bahwa hidup ini ternyata adalah kompetisi yang belum akan berakhir sebelum kita mati, semua mau jadi juara.  Tapi yang jadi soal adalah cara untuk menangnya itu, sering sekali menghalalkan segala cara yang penting menang dan juara!!

Ternyata kompetisi ini juga berlangsung pada ranah ketatanegaraan, dimulai dari kompetisi antar partai politik, dan penguasa, sebagaimana bermain bola, banyak juga yang nakal, main kayu, jegal sana jegal sini, dorong sana dorong sini yang penting bisa juara, tapi ada yang berbeda, kalau disepak bola sebenarnya, pemain yang tua sudah pasti akan memberikan tempat bagi pemain muda yang lebih segar, bertenaga, trampil, cekatan dan lebih pintar, dan mereka akan duduk manis disamping lapangan, jadi pelatih (kalau mereka mumpuni) tetapi tidak demikian dikompetisi untuk memenangkan kursi pemerintahan, yang tua malah menjadi-jadi dan selalu haus untuk kembali duduk dikursi tertinggi serta mendapatkan pelayanan lebih, kalau orang jawa bilang, kemaruk dan kendoro-ndoroan) senang sekali sipanggil nDoro putri atau nDoro Kakung!! Feodalis sejati!!

Gak pernah sadar bahwa anak-anaknya yang dulu masih ingusan dan disekolahin, sekarang sudah dewasa yang mempunyai kepintaran lebih dari mereka, tetep saja mereka tidak mau tahu, mereka masih menganggap bahwa mereka layak untuk tetap memiliki kuasa dan memegang piala, padahal pialanya itu piala bergilir, bukan piala tetap, walhasi berbagai cara dilakukan untuk tetap berada dilingkaran kompetisi serta dianggap mampu berkompetisi dan dengan menghalalkan segala cara mereka bisa berbuat apa saja misalnya main kayu, curi waktu start mengusung kembali romantisme waktu mereka masih juara dulu “semangkin lama semangkin memalukan ‘daripada’ tindak tanduk mereka itu”, gak percaya?

Lha itu apa yang ada ditelevisi sudah banyak pasang reklame kok, ada yang bilang aku ini golongan petani lah, aku akan me-wakafkan sisa hidup saya lah, ada juga yang megatakan negara ini masih terpuruk, kalau embah bilang renungkan, selama ini mereka ini kemana saja ? kok ngomongnya baru sekarang, menjelang 2009? Dulunya mereka kan juga bagian dari tukang ngatur sekaligus pemain toh? Apa mereka sudah pikun, kalau penontonnya masih banyak yang sama? Apa mereka pikun kalau wasit yang terakhir adalah penonton?

Embah sudah capek sama janji-janji, dan mereka memang semuanya seperti penjual jamu dipasar – pasar yang sering kali untuk menarik pembeli si tukang jamu ngasih atraksi ular atau monyet atau sulapan atau apalah yang penting jualannya bisa laku dan bisa menarik perhatian calon mangsa…. Ini juga selalu ada dijualan politik, Cuma monyetnya bisa jadi diganti dengan artis dangdut atau artis lainnya, ularnya diganti dengan hadiah uang makan atau uang bensin atau kaos ‘bergambar’  nah embah hanya mau ngingetin kepada cucu-cucu semua, bahwa kalian musti ‘semangkin’ pintar dan cermat utnuk mengamati ‘daripada’ tingkah laku dan kelicikan pemain2 seperti itu, jangan sampai kompetisi ini menghasilkan juara-juara yang sudah lapuk dimakan usia dan tidak ‘up to date’ lagi, karena semua ini akan menjamin kelangsungan kompetisi kita dimasa – masa mendatang, embah yakin kita semua pingin punya kompetisi yang bersih, sehat dan mengasilkan juara yang memang benar-benar mempunyai kualitas ‘daripada’ juara. Sek embah tak njaluk pijet embah putri karo wedang kopi-jahe…pegel kabeh awakku…

Maret 1, 2008 Posted by | embah bilang | 3 Komentar