embah bilang

belajar mentertawakan diri sendiri lewat ironi dan sinisme…

Kompetisi dagelan..

dinegaranya embah, ada beberapa kompetisi sepak bola yang dari jaman embah masih kecil sudah menjadi bagian dari kehidupan anak-anak bangsa sebagai hiduran dan tontonan sekaligus bahan pembicaraan yang gayeng diantara semua pecinta olah raga ini baik tua, muda lelaki dan perempuan, melewati batas agam, ras, suku, kaya miskin dan apapun lainnya.

Ada kompetisi tar-kam atau antar kampong, kompetisi lokal baik di kadipaten ataupun di kota raja (propinsi) dan sejak jambi (jaman mbiyen) atau jadul (jaman dulu) ketika pejabat-pejabat masih begitu bangga berpakaian dengan bahan kain Famatex, Tetoron dan Blacu, dan membawa tas kerja dari kulit imitasi, warga bangsa ini sudah terbisasa denga adanya hiruk pikuk kompetisi dan segala pernak-pernik dan kemeriahannya termasuk juga akibat yang timbul semisal penonton marah, protes ke wasit, merusak dan membakar stadion dan sebagainya.

Dari gambaran itu embah bisa memahami bahwa hidup ini ternyata adalah kompetisi yang belum akan berakhir sebelum kita mati, semua mau jadi juara.  Tapi yang jadi soal adalah cara untuk menangnya itu, sering sekali menghalalkan segala cara yang penting menang dan juara!!

Ternyata kompetisi ini juga berlangsung pada ranah ketatanegaraan, dimulai dari kompetisi antar partai politik, dan penguasa, sebagaimana bermain bola, banyak juga yang nakal, main kayu, jegal sana jegal sini, dorong sana dorong sini yang penting bisa juara, tapi ada yang berbeda, kalau disepak bola sebenarnya, pemain yang tua sudah pasti akan memberikan tempat bagi pemain muda yang lebih segar, bertenaga, trampil, cekatan dan lebih pintar, dan mereka akan duduk manis disamping lapangan, jadi pelatih (kalau mereka mumpuni) tetapi tidak demikian dikompetisi untuk memenangkan kursi pemerintahan, yang tua malah menjadi-jadi dan selalu haus untuk kembali duduk dikursi tertinggi serta mendapatkan pelayanan lebih, kalau orang jawa bilang, kemaruk dan kendoro-ndoroan) senang sekali sipanggil nDoro putri atau nDoro Kakung!! Feodalis sejati!!

Gak pernah sadar bahwa anak-anaknya yang dulu masih ingusan dan disekolahin, sekarang sudah dewasa yang mempunyai kepintaran lebih dari mereka, tetep saja mereka tidak mau tahu, mereka masih menganggap bahwa mereka layak untuk tetap memiliki kuasa dan memegang piala, padahal pialanya itu piala bergilir, bukan piala tetap, walhasi berbagai cara dilakukan untuk tetap berada dilingkaran kompetisi serta dianggap mampu berkompetisi dan dengan menghalalkan segala cara mereka bisa berbuat apa saja misalnya main kayu, curi waktu start mengusung kembali romantisme waktu mereka masih juara dulu “semangkin lama semangkin memalukan ‘daripada’ tindak tanduk mereka itu”, gak percaya?

Lha itu apa yang ada ditelevisi sudah banyak pasang reklame kok, ada yang bilang aku ini golongan petani lah, aku akan me-wakafkan sisa hidup saya lah, ada juga yang megatakan negara ini masih terpuruk, kalau embah bilang renungkan, selama ini mereka ini kemana saja ? kok ngomongnya baru sekarang, menjelang 2009? Dulunya mereka kan juga bagian dari tukang ngatur sekaligus pemain toh? Apa mereka sudah pikun, kalau penontonnya masih banyak yang sama? Apa mereka pikun kalau wasit yang terakhir adalah penonton?

Embah sudah capek sama janji-janji, dan mereka memang semuanya seperti penjual jamu dipasar – pasar yang sering kali untuk menarik pembeli si tukang jamu ngasih atraksi ular atau monyet atau sulapan atau apalah yang penting jualannya bisa laku dan bisa menarik perhatian calon mangsa…. Ini juga selalu ada dijualan politik, Cuma monyetnya bisa jadi diganti dengan artis dangdut atau artis lainnya, ularnya diganti dengan hadiah uang makan atau uang bensin atau kaos ‘bergambar’  nah embah hanya mau ngingetin kepada cucu-cucu semua, bahwa kalian musti ‘semangkin’ pintar dan cermat utnuk mengamati ‘daripada’ tingkah laku dan kelicikan pemain2 seperti itu, jangan sampai kompetisi ini menghasilkan juara-juara yang sudah lapuk dimakan usia dan tidak ‘up to date’ lagi, karena semua ini akan menjamin kelangsungan kompetisi kita dimasa – masa mendatang, embah yakin kita semua pingin punya kompetisi yang bersih, sehat dan mengasilkan juara yang memang benar-benar mempunyai kualitas ‘daripada’ juara. Sek embah tak njaluk pijet embah putri karo wedang kopi-jahe…pegel kabeh awakku…

Iklan

Maret 1, 2008 - Posted by | embah bilang

3 Komentar »

  1. Menawi sampun sayah sare kemawon to, Mbah. Mbenjang enjang kulo teraken dateng griyanipun paklik SBY 😀 Nyuwun sewu… asmanipun sinten, Mbah? Tepangaken, kulo Ratih.

    Komentar oleh Ratih S. Jatmiko | Maret 8, 2008

  2. Kulo ngaturaken sugeng rawuh wontening pagupon kulo, mugi-mugi panjenengan kraos lelenggahan wonten mriki, ugi kulo nyuwun ngapunten bilih kulo langkung remen dipun arani embah bilang kemawon mbak Ratih

    Komentar oleh mbahbilang | Maret 10, 2008

  3. memang seharusnya seperti itu, penuuh imajinasi dan kreatifitas. maju terus 🙂

    Komentar oleh kesehatan gigi | Maret 21, 2008


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: